|
|
|
|
Home > berita & peristiwa
> Warta PLN
|
| |
|
|
| |
|
| :: Dari Media |
Rabu, 17 Februari 2010 PLN Optimis Peroleh Utang Rp 21 Triliun
Jakarta ( Berita ) : PT PLN (Persero) mengaku optimis memperoleh utang senilai Rp 21 triliun pada 2010 menyusul keputusan pemerintah menaikkan marjin usaha dari lima menjadi delapan persen. Direktur Keuangan PLN Setio Anggoro Dewo di Jakarta, Kamis [07/01] mengatakan, saat ini, komunitas pasar keuangan tetap menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi kepada PLN. “Sehingga, kami optimis dapat memperoleh pinjaman senilai Rp21 triliun di harga yang kompetitif,” ujarnya. Baru-baru ini, PLN juga dapat meningkatkan nilai obligasi rupiah dari Rp1,5 triliun menjadi Rp3 triliun menyusul tingkat kepercayaan pasar keuangan yang cukup tinggi tersebut. Menurut Setio, pinjaman sebesar Rp 21 triliun tersebut akan diupayakan PLN melalui pasar modal dan perbankan baik dalam maupun luar negeri. Ia mengatakan, utang tersebut akan digunakan buat program investasi di antaranya perkuatan sistem kelistrikan Jawa-Bali, dana pendamping pembangunan 10,000 MW, dan pembangunan jaringan distribusi. Setio menambahkan, pada tahun ini, pendapatan listrik dari pelanggan diperkirakan mencapai Rp103 triliun. “Dengan subsidi APBN ditetapkan sebesar Rp37,8 triliun, maka kami berharap kenaikan marjin dapat mengurangi kesenjangan antara kas pemasukan dan pengeluaran,” ujarnya. Selain kenaikan marjin, pada 2010, pemerintah juga berencana menambah penyertaan modal ke PLN senilai Rp10 triliun. Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengharapkan, melalui tambahan dana Rp31 triliun tersebut, kondisi krisis listrik yang terjadi di sejumlah daerah bisa teratasi pada Oktober 2010 atau setelah satu tahun masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tambahan pendanaan tersebut, juga akan membuat tarif dasar listrik (TDL) tidak perlu mengalami kenaikan seperti rencana semula. PLN mencatat, per Oktober 2009, dari 24 sistem kelistrikan nasional, sebanyak 11 sistem di antaranya mengalami defisit dengan total daya 460,2 MW. Sedang, hanya dua sistem dalam kondisi normal dan 11 lainnya berstatus siaga. PLN membagi sistem kelistrikan menjadi tiga kondisi yakni normal adalah tidak ada pemadaman dan cadangan operasi lebih besar dari satu unit pembangkit terbesar. Selanjutnya, status siaga adalah tidak ada pemadaman, tetapi mempunyai potensi padam karena cadangan operasi lebih kecil dari satu unit pembangkit terbesar. Sedang, kondisi defisit adalah terjadi pemadaman karena daya mampu pembangkit lebih kecil dari beban puncak atau gangguan sistem transmisi. Sebanyak 11 sistem yang terdeteksi mengalami defisit adalah Sumatera bagian selatan sebesar 198,3 MW, Sulawesi Selatan 145,7 MW, Sumatera bagian utara 70 MW, Minahasa 27,51 MW, Tanjung Pinang 7,4 MW, Palu 5,96 MW, Kendari 2,1 MW, Poso 1,71 MW, Sampit 0,8 MW, Ambon 0,56 MW, dan Singkawang 0,16 MW. Sedang, sistem yang dalam kondisi normal adalah Jawa-Bali dan Bontang. Sistim kelistrikan yang mengalami siaga adalah Bangka, Belitung, Batam, Pontianak, Lombok, Barito, Mahakam, Gorontalo, Kupang, Ternate, dan Jayapura. ( ant )
Sumber : HARIAN TRIBUN PONTIANAK
|
|
|
|